Google+ Followers

Minggu, 06 November 2011

Drama


MENYAMPAIKAN DIALOG DISERTAI GERAK-GERIK SESUAI DENGAN WATAK TOKOH DALAM DRAMA

1)   Memahami teks Drama
 Untuk mementaskan teks drama, tentunya Anda harus memhami isi teks drama tersebut secara utuh. Pemahaman atas isi teks sebuah drama mencakup alur cerita, penokohan, perwatakan, dan latar ceritannya, Setelah Anda memahami isi teks drama, selanjutnya  Anda harus mengetahui pula teknik-teknik berlatih mementaskan drama. Mengenai teknik-teknik berlatih drama mementaskan drama, Anda akan mempelajari subbaba berikutnya. 
Secara umum, pemahaman atas teks drama Anda dapat lakukan melalui cara-cara berikut.
a.   Mula-mula, para pemain melakukan pembedahan atas isi teks drama yan akan dipentaskan secara bersama-sama. Tujuannya agar semua calon pemain memahami isi naskah yang akan dimainkan mulai dari alur cerita, penokohan dan perwatakan, serta latar ceritanya.
b.   setiap pemain kembali membaca dan memahami secara keseluruhan naskah sehingga dapat mengenal masing-masing peran.





Menyampaikan Dialog disertai Gerak-Gerik dan Mimik yang sesuai

Salah satu cara menghidupkan dialog dalam drama adalah peng-ekspresiannya melalui gerak dan mimik tokoh. pengekspresian itu tentu saja harus sesuai dengan karakter tokoh yang kita mainkan. Oleh karena itu, Pemahaman atas karakter tokoh wajib sifatnya. Misalnya, jika yang akan diperankan itu seorang suami yang memiliki masalah. Untuk itu, Anda harus memahami betul suasana jiwa tokoh tersebut. Selain itu, Anda juga harus meresapi bagaimana tokoh itu berbicara, berjalan, dan perilaku-perilaku lainnya.
Berikut ini merupakan hal-hal yang harus Anda cermati pada saat Anda berlatih mmenyampaikan dialog drama.
1)   Anda harus dapat menjiwai karakter tokoh yang diperankan. Untuk itu, perlu diresapi gerak-gerik, emosi, dan sikap tokoh  itu dengan cermat.
2)   Penuturan tokoh harus di ekspresikan dengan gerak-gerik dan mimik yang menggambarkan karakter tokoh yang dimainkan. Dalam hal inilah diperlukan kemampuan meniru tingkah laku orang lain. Seorang pemain peran yang baik adalah orang yang dapat menirukan  tokoh yang diperankannya dengan wajar, apa adanya.

Untuk menirukan seorang tokoh, Anda harus mengamati tokoh itu dalam kehidupan sehari-hari. Anda pun perlu mengamati cara berpakaian, cara bicara, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya dari tokoh yang diperankan. Misalnya, Anda akan menirukan tokoh pengusaha. Anda pun terlalu memahami tokoh itu dalam kenyataan yang sesungguhnya. Cobalah perhatikan apabila seorang pengusaha sedang memimpin rapat, bagaimana ekspresi wajahnya, gerak-gerik, dan ucapannya. Dengan memperhatikan kehidupan manusia sehari-hari, akan banyak membantu dalam memainkan suatu peran.
Terdapat beberapa teknik penghayatan yang dapat kita lakukan dalam melatih kemampuan menghayati suatu peran, antara lain :
1)  Konsentrasi, yakni pemusatan pikiran dan perhatian pada suatu objek. Misalnya, pengonsentrasian pada suara burung atau pada sosok teman.  Dengan cara ini, Anda diharapkan dapat mendalami objek itu secara lebih mendetail.
2)  Imajinasi,  dengan menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. Misalnya, Dengan memejamkan mata, kemudian membayangkan bahwa diri Anda sedang berada di sebuah kapal terbang yang mesinnya rusak. Anda juga dapat membayangkan bahwa Anda sedang berada di planet lain.
3)  Tindakan fisik, yakni dengan cara melakukan latihan-latihan konkret yang mungkin dilakukan oleh seorang tokoh, misalnya duduk, berdiri, berjalan, menyemir sepatu, dan tindakan-tindakan konkret lainnya.

Di luar teknik-teknik tersebut, terdapat beberapa latihan lainnya yang harus dilakukan seorang pemain drama agar penampilannya dapat optimal. Latihan-latihan  tersebut berkenaan dengan persiapan fisik, antara lain :
1)  Olah tubuh, misalnya dengan memutar pinggul, memutar bahu, meregangkan lengan, melakukan senam mulut, ataupun mengerut-ngerutkan jidat.
2)  Olah suara, yakni berupa latihan yang berkenaan dengan pelafalan, intonasi, atau tempo dalam pengucapan bunyi bahasa, kata, atau kalimat.





Mengidentifikasi Peristiwa, Pelaku dan Perwatakannya, Dialog, dan konflik pada Pementasan Drama

1. Menyimak Pementasan Drama

Mendengarkan untuk tujuan menganalisis berbeda dengan mendengar untuk tujuan menghibur diri. Dalam hal ini, Anda harus memilik sikap kritis, yakni dengan cara memberikan penilaian terhadap baik-buruknya drama itu berdasarkan unsur-unsur tertentu : gerak-gerik, mimik dan yang lainnya. Adapun langkah-langkah  adalah sebagai  berikutnya.
a.   Simaklah dengan saksama rekaman drama itu.
b.   Perhatikan unsur-unsur yang akan Anda kritisi. Biasanya pada peristiwa pelaku perwatakannya, dialog, dan konflik.
c.   Catatlah hal-hal menarik dalam unsur-unsur itu.

2.  Mengindentifikasi Unsur-Unsur Drama
 secara umum, sebuah teks drama meliputi unsur-unsur berikut.
a.   Alur atau plot
Seperti juga bentuk-bentuk sastra lainnya, sebuah cerita drama harus bergerak dari suatu permulaan, melalui suatu bagian tengah, menuju bagian akhir. Dalam drama, bagian-bagian alur ini dikenal sebagai eksposisi, komplikasi, dan resolusi (denouement).
1)   Eksposisi
Eksposisi suatu cerita menentukan aksi dalam waktu dan tempat; memperkenalkan para tokoh;  menyatakan situasi sesuatu cerita, mengajukan konflik yang akan dikembangkan dalam bagian utama cerita tersebut, adakalanya membayangkan resolusi yang akan dibuat dalam cerita itu.
2)   Komplikasi
Komplikasi atau bagian tengah cerita,  mengembangkan konflik. Sang pahlawan atau pelaku utama menemukan rintangan-rintangan antara dia dan tujuannya, dia mengalami aneka kesalahpahaman dalam perjuangan untuk menanggulangi rintangan-rintangan ini.

3)   Resolusi
Resolusi atau denouement hendaklah muncul secara logis dari apa-apa yang telah mendahuluinya di dalam komplikasi. Titik batas yang memisahkan komplikasi dan resolusi, biasannya disebut klimaks (turning point). Pada klimask itulah terjadi perubahan penting mengenai nasib sang tokoh. Kepuasan para penonton terhadap suatu cerita tergantung pada sesuai-tidaknya perubahan itu dengan yang mereka harapkan.

b.  Penokohan
Tokoh- tokoh dalam drama diklasifikasi sebagai berikut.
1) Tokoh gagal atau tokoh badut (the foil). Tokoh ini mempunyai pendirian yang bertentangan dengan tokoh lain. Kehadiran tokoh ini berfungsi untuk menegaskan tokoh lain itu.
2)   Tokoh idaman (the type character). Tokoh ini berperan sebagai pahlawan dengan karakternya yang gagah, berkeadilan, atau terpuji.
3)   Tokoh statis (the static character). Tokoh ini memiliki peran yang tetap sama, tanpa perubahan, mulai dari awal hingga akhir cerita.
4)   Tokoh yang berkembang. Tokoh ini mengalami perkembangan selama cerita itu berlangsung. Misalnya, tokoh A yang pada awal cerita sangat setia, secara cepat berkembang dan berubah menjadi tidak setia, menjadi orang yang berkhianat pada akhir cerita.

C.   Latar
Latar adalah keterangan mengenai ruang dan waktu. Penjelasan latar dalam drama dapat disisipkan pengarang  pada pertunjukkan. Petunjuk tersebut lazim disebut dengan kramagung. Latar juga dapat dinyatakan melalui percakapan para tokohnya. Dalam pementasannya, latar dapat dinyatakan dalam tata panggung ataupun cahaya.

d.  Bahasa
Bahasa tidak hanya media komunikasi antar tokoh. Dalam drama, bahasa juga bisa menggambarkan  karakter tokoh, latar, ataupun peristiwa yang sedang terjadi.

e.   Perlengkapan
Apabuka drama itu akan dipentaskan, sejumlah fasilitas yang diperlukan sebagai pelengkap cerita. Beberapa di antranya panggung kostum, pencahayaan, dan sistem akustik.

Ensiklo Sastra
Teater Koma
Merupakan kelompok teater populer Indonesia yang sangat berkembang. Didirikan di Jakarta, 1 Maret 1977 oleh 12 seniman, yaitu : Norbertus Riantiarno, Ratna Madjid, Rima Melati, Rudjito, Jajang Pamontjak, Titi Otong Lenon, Zaenal Bungsu, dan Agung Dauhanadalah. Sampai saat ini, teater koma telah menggelar lebih dari 111 pementasan, aik di televisi maupun di panggung.
Kelompok teater ini mempunyai situs  http://www.teaterkoma.org/  . Dalam situs tersebut banyak informasi mengenai jadwal pementasan, keanggotaan, berita, artikel-artikel dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar