Google+ Followers

Sabtu, 27 Agustus 2011

Menganalisis Unsur-Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Indonesia / Terjemahan


              Pihak yang diharapkan datang ke negeri kita ini bukan hanya para turis ataupun wisatawan luar negeri, tetapi juga karya-karyanya, salah satunya novel.  Apabila wisatawan asing dapat memberikan devisa bagi negara maka novel asing pun dapat menambah kekayaan ilmu bangsa kita. Itulah salah satu manfaat yang dapat kita peroleh dari novel asing. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari dan kita bandingkan dengan novel indonesia sendiri.
Baik itu berupa novel indonesia ataupun novel terjemahan, kandungan unsur-unsur yang dimilikinya sama saja, yakni unsur intrinsik dan ekstrinsik. Adapun unsur intrinsik novel meliputi alur (plot), tema, penokohan, sudut pandang (point of view), latar (setting), amanat.
               Sementara itu, unsur ektrinsiknya meliputi aspek kepengarangan dan kondisi sosial budaya yang melatarbelakang penciptaan novel itu.
 1.            Unsur-Unsur Intrinsik Novel
berikut ini penjelasan mengenai unsur-unsur intirnsik novel.
a.              Alur (Plot)
Alur merupakan pela pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat. Inti sari alur ada pada konflik cerita. Akan tetapi, suatu konflik dalam novel tak bisa dipaparkan begitu saja;  jadi harus ada dasarnya. Oleh karena itu, alur terdiri atas :
(1) Pengenalan,
(2) Timbulnya konflik,
(3) Konflik memuncak,
(4) Klimaks,  dan
(5) Pemecahan masalah
Di fase pengenalan, pengarang mulai melukiskan situasi dan memperkenalkan tokoh-tokoh cerita sebagai pendahuluan. Di bagian kedua pengarang mulai menampilkan pertikaian yang terjadi di antara tokoh. Pertikaian ini semakin meruncing, dan puncaknya terjadi di bagian keempat (klimaks). Setelah fase tersebut terlampaui, sampailah di bagian kelima (pemecahan masalah). Alur pun menurun menuju pemecahan masalah dan penyelesaian cerita.
Itulah unsur-unsur alur yang berpusat pada konflik. Dengan adanya alur serperti di atas, pembaca dibawa ke dalam suatu keadaan yang menegangkan (supsense). Supsense inilah yang menarik pembaca untuk terus mengikuti cerita.
Dari susunan alur di atas jelaslah bahwa kekuatan sebuah novel terletak pada kemampuan pengarang membawa pembacanya menemui konflik, memuncaknya konflik, dan berakhirnya konflik. Timbul konflik sering berhubungan erat dengan unsur watak dan latar. Konflik dalam cerita mungkin terjadi karena watak seorang tokoh yang menimbulkan persoalan bagi tokoh lain atau lingkungannya.

b.              Tema
Tema adalah inti atau ide pokok sebuah cerita. Tema merupakan pangkal tolak pengarang dalam menyampaikan cerita. Tema suatu novel menyangkut segala persoalan dalam kehidupan manusia, baik masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, dan sebagainya.

c.              Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk menggambarkan karakter seorang tokoh, pengarang dapat menyebutkan secara langsung,  misalnya  si A itu penyabar, si B  itu murah hati. Penjelasan karakter tokoh dapat pula melalui gambaran fisik dan perilakunya, lingkungan kehidupannya, cara bicaranya, jalan pikirannya, ataupun melalui penggambaran oleh tokoh lain.

d.         Sudut Pandang (Point of  View)
Sudut pandang adalah posisi pengarang atau narator dalam membawakan cerita. Posisi pengarang dalam menyampaikan cerita ada beberapa macam :
1)     Narator Serba tahu
Dalam posisi ini,  narator bertindak sebagai pencipta segalanya yang serba tahu. Ia tahu segalanya. Ia dapat menciptakan segala hal yang diinginkannya. Ia dapat  mengeluarkan dan memasukkan para tokoh. Ia dapat mengemukakan perasaan, kesadaran, ataupun jalan pikiran para tokoh. Pengarang dapat mengomentari kelakuan para tokohnya, bahkan dapat pula berbicara langsung dengan pembacanya.

2)     Narator objektif
Dalam teknik ini, pengarang tak memberi komentar apa pun. Pembaca hanya disuguhi "hasil pandangan mata".  Pengarangnya menceritakan apa yang terjadi seperti penonton melihat pementasan drama. Pengarang sama sekali tak mau masuk ke dalam pikiran para pelaku. Dalam kenyataan-kenyataannya, orang memang hanya dapat melihat apa yang diperbuat orang lain. Dengan melihat perbuatan  orang lain tersebut, kita dapat menilai kehidupan kejiwaannya,  kepribadiannya,  jalan pikirannya, dan perasaannya.  Motif tindakan pelakunya hanya bisa kita nilai dari perbuatan mereka.  Dalam hal ini, jelasnya bahwa pembaca sangat diharapkan partisipasinya. Pembaca bebas menafsirkan apa yang diceritakan pengarang.

3)     Narator aktif
Narator juga aktor yang terlibat dalam cerita. Kadang-kadang fungsinya sebagai tokoh sentral. Cara ini tampak dalam penggunaan kata ganti orang pertama (aku, kami). Dengan kedudukan demikian, narator hanya dapat melihat dan mendengar apa yang orang biasa lihat atau dengar. Narator kemudian mencatat tentang apa yang dikatakan atau dilakukan tokoh lain dalam suatu jarak penglihatan dan pendengaran. Narator tidak dapat membaca pikiran tokoh lain kecuali hanya menafsirkan dari tingkah laku fisiknya. Narator juga tidak dapat melompati jarak yang besar, Hal-hal yang bersifat psikologis dapat dikisahkan jika menyangkut dirinya sendiri.

4)     Narator sebagai peninjau
Dalam teknik ini, pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian cerita kiat ikuti bersama tokoh ini. Tokoh ini bisa bercerita tentang pendapatnya atau perasaannya sendiri. Sementara itu, terhadap tokoh-tokoh lain, ia hanya bisa memberitahukan kita semua apa yang dia lihat saja. Jadi  teknik ini berupa  penuturan pengalaman seseorang. Dalam beberapa hal,  teknik  ini sebenarnya hampir sama dengan teknik orang pertama, tetapi teknik ini lebih bebas dan fleksibel dalam bercerita.


e.         Latar
Latar (setting) merupakan tempat, waktu, dan suasana terjadinya perbuatan tokoh atau peristiwa yang dialami tokoh.  Dalam cerpen, novel ataupun bentuk prosa lainnya, kadang-kadang juga tidak disebutkan secara jelas latar perbuatan tokoh itu. Misalnya, di tepi hutan, di sebuah desa, pada suatu waktu, pada zaman dahulu, di kala senja.


F.         Amanat
Amanat merupakan ajaran moral atau pesan ang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya itu. Tidak jauh berbeda dengan bentuk cerita lainnya, amanat dalam novel akan disimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya  dalam keseluruhan isi cerita. Oleh karena itu, untuk menemukannya, tidak cukup dengan membaca dua atau tiga paragraf, tetapi harus menghabiskannya sampai tuntas.


2.    Unsur-Unsur Ekstrinsik

Unsur- unsur ektrinsik adalah unsur luar yang berpengaruh terhadap isi novel itu.  Termasuk ke dalam unsur luar itu adalah latar belakang pengarang, kondisi sosial budaya, dan tempat atau lokasi novel itu dikarang.

a.    Latar belakang
latar belakang pengarang menyangkut asal daerah atau suku bangsa,  jenis kelamin,  pendidikan,  pekerjaan,  agama,  dan ideologi pengarang.  Unsur-unsur ini sedikit banyak akan berpengaruh pada isi novelnya. Misalnya novel yang dikarang orang Padang akan berbeda dengan novel yang dibuat oleh orang Sunda, orang Inggris atau orang Arab.
b.    Kondisi Sosial budaya
Kondisi sosial budaya, misalnya novel yang dibuat pada zaman kolonial akan berbeda dengan novel pada zaman kemerdekaan, atau pada masa reformasi.  Novel yang dikarang oleh orang yang hidup ditengah-tengah masyarakat metropolis  akan berbeda dengan novel yang dihasilkan oleh pengarang yang hidup di tengah-tengah masyarakat tradisional.
c.    Tempat atau kondisi alam
Tempat atau kondisi alam, mislanya novel yang dikarang oleh orang yang hidup di daerah pertanian, sedikit banyak akan berbeda dengan novel yang dikarang oleh orang yang terbiasa hidup di daerah gurun.

Untuk mengetahui wujud unsur-unsur ektrinsik itu, tentu kita harus mengetahui biografi pengarangnya beserta tahun penerbitnya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar